RSS

Tumblr

Ada pepatah yang berkata “A picture can speak a thousand words” (sebuah gambar dapat berbicara banyak).  Siapapun yang mempionirkan Tumblr bisa jadi terinspirasi dari pepatah ini. Tumblr adalah salah satu mini-blog yang akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan untuk berbagi foto dan gambar.

Saat sedang blog-walking, saya menemukan sebuah alamat Tumblr menarik dari seseorang yang mengaku dirinya sebagai guru ESL (English as a Second Languange). Berikut tulisan dalam bio-nya:
I am an ESL (English as a Second Language) tutor over Skype. I do a visual exercise with one of my students, “A,” where I show her a picture, then she writes two to four sentences about it. My friends love her sentences and urged me to start a Tumblr, so here it is. 

(Saya adalah tutor ESL (English as a Second Languange) via Skype. Saya banyak melakukan latihan visual dengan salah satu murid saya, “A”, yang dipraktikkan dengan cara menunjukkan sebuah gambar, lalu ia akan menuliskan dua hingga empat kalimat tentang gambar tersebut. Teman-teman saya sangat menyukai kalimat-kalimat yang dibuatnya, lalu mendorong saya untuk membuka akun Tumblr. Jadi, inilah dia.”)

Ternyata apa yang dikatakan teman-temannya benar. Kalimat-kalimat yang dibuat murid tersebut sangatlah imajinatif dan menghibur.

Silakan melihat sendiri tautan link Tumblr-nya: http://my-esl-student.tumblr.com/ (harap diketahui ada beberapa gambar yang mungkin akan terlihat disturbing)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2012 in Uncategorized

 

Tag:

Belajar tentang Keragaman: Menghargai Diri dan Orang Lain

Saat anak sedang mengembangkan identitas yang positif, anda juga perlu memperkenalkan perbedaan sekaligus persamaan yang ia miliki dengan orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

Mengundang teman-teman dan tetangga untuk berbagi adat dan tradisi kebudayaan bersama anak anda.

Minta orang lain untuk berbagi pengalaman mengenai acara keagamaan atau perayaan lain yang penting.

Gunakan cara yang bervariasi untuk memperkenalkan persamaan dan perbedaan. Tunjukkan buku, foto, ilustrasi, musik, lagu, gerakan fisik dan kata-kata untuk memperkenalkan keragaman.

Berikut adalah beberapa contoh kegiatan untuk memperkenalkan persamaan dan perbedaan pada anak.

Gambar Diri Sendiri. Ajak anak dan teman-temannya untuk menggambar potret dirinya masing-masing. Saat anak-anak melihat gambar satu sama lain, bantu mereka memperhatikan persamaan (“kami semua punya mata”) dan perbedaan (“bentuk dan warna mata kami berbeda”) yang dimiliki.

Tunjukkan foto keluarga. Dorong anak untuk menunjukkan foto keluarga anda kepada teman-temannya. Bicarakan apa yang dia lihat di dalam foto dirinya dan orang lain. Bantu dia membuat kolase foto-foto dan tunjukkan bahwa dia merupakan bagian dari keluarga yang unik dan bisa jadi berbeda dengan orang lain.

Belajar bahasa baru. Tawarkan anak anda dan teman-temannya kesempatan untuk berbicara, melihat, merasakan (huruf Braille), dan mendengar bahasa mereka daerah yang dimiliki. Perkenalkan kata-kata sederhana, tempelkan nama benda, dan bernyanyilah lagu-lagu dalam bahasa daerah keluarga.

Akui perbedaan dan persamaan. Saat menonton televisi dengan anak anda, tunjuk tokoh dan situasi-situasi yang menarik, dan beri dia pertanyaan. Contoh, jika ada karakter yang menggunakan kursi roda, tanyakan apa perbedaan dan persamaan yang ia miliki dengan tokoh tersebut.(sumber: http://www.jalansesama.or.id)

Saya juga ingin mengimbuhkan bahwa guru dan orang tua, sebagai role model bagi anak-anak, juga perlu belajar untuk menghargai perbedaan dengan tidak melekatkan stereotip terhadap etnis atau agama tertentu, terutama di depan anak-anak. Hingga kini, masih banyak berkembang kepercayaan seputar SARA bahwa kelompoknya yang paling benar sehingga terjadi pertikaian dan persepsi negatif (meski tak dilontarkan secara langsung) antara satu kelompok dengan yang lain.

Usahakan untuk selalu berpikiran terbuka dan menghargai keanekaragaman dengan toleransi. Jangan sampai jargon tersebut berhenti di buku pelajaran semata. Kita hidup berdampingan di negara ini, sama-sama berjuang menghadapi kemelut yang sama. Seandainya sejenak kita menanggalkan penilaian terhadap atribut warna, bentuk mata dan aturan-aturan agama, bukankah kita semua sama?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2012 in Uncategorized

 

Tag:

Pengenalan terhadap Warna, Bentuk dan Ukuran

Dalam bahasa Inggris, pengenalan warna, bentuk dan ukuran adalah materi yang perlu dikuasai anak, terutama usia dini (3-5 tahun). Hal ini penting karena anak menggunakan pemahaman warna, bentuk dan ukuran dalam mengobservasi, membandingkan dan mendiskusikan hal-hal yang dilihat dan ditemukannya. Kemampuan untuk memperhatikan, menggunakan dan membedakan antara satu benda dengan yang lain adalah konsep yang mendasari matematika, sains, serta keterampilan membaca.

Colors (warna)

  • gunakan kertas origami/spidol warna-warni/krayon/permen M&Ms/bola berwarna-warni untuk menjelaskan nama-nama warna
  • lakukan permainan sederhana, seperti mengklasifikasikan benda berwarna tertentu sesuai dengan kategorinya. Misalnya: campur  sejumlah benda berwarna-warni di dalam keranjang. Kemudian, instruksikan beberapa anak untuk mencocokkan benda-benda tersebut sesuai warna keranjang yang sudah diletakkan pada sudut-sudut ruangan. Beri waktu agar permainan menjadi lebih seru
  • Anda juga bisa menginstruksikan anak untuk mengelilingi sekolah sembari mencatat benda-benda berwarna tertentu di dalam kertas kerjanya. Contoh kertas kerja yang dapat ditiru adalah seperti ini
  • buat kamus atau poster benda berwarna dengan menggunting gambar di majalah, lalu tempel dan tulis nama benda tersebut di bawahnya

Shapes (bentuk)

Beberapa aktivitas dalam ‘warna’ dapat digunakan juga untuk mengajarkan bentuk. Selain itu, Anda juga bisa:

  • membuat bentuk (segitiga, bujur sangkar, persegi panjang, hati, oval, bintang, dan sebagainya) dalam ukuran kecil, sedang dan besar, lalu instruksikan anak untuk membuat ‘gambar’ dengan bentuk-bentuk tersebut. Jika anak masih terlalu muda, mereka dapat mengikuti template Anda (misalnya: wajah badut, motif kaus, motif balon udara, dsb.)
  • buat pola dengan menggunakan bentuk-bentuk tersebut, misalnya: bintang – hati – lingkaran
  • pergunakan cetakan kue untuk membuat kue sungguhan, panggang, lalu hias dengan icing. Sebagai alternatif, Anda juga bisa menggunakan cetakan tersebut untuk membuat kue-kue berbentuk hati, lingkaran, bintang, dll. dengan play-dough. Cara membuat  play-dough sendiri: tepung terigu, air secukupnya dan garam. Uleni sambil beri pewarna makanan

Sizes (ukuran):

  • perkenalkan berbagai jenis ukuran (besar, kecil, sedang, tinggi, pendek, tebal, tipis, dsb.) dengan materi bervariasi, seperti guntingan kertas origami (dengan bentuk-bentuk yang Anda ajarkan), balon, bola, tinggi badan anak, dll.
  • ajarkan perbandingan dua atau tiga benda dengan ukuran yang berbeda-beda (big, bigger, the biggest)
  • kertas kerja: gambar beraneka jenis hewan (tanpa warna) dengan ukuran yang beragam, lalu instruksikan anak untuk mewarnai dan membuat gambar-gambar ekstra. Misalnya: Color the tall giraffe with orange; Draw two circles on the small elephant’s body; dan seterusnya

Anda dapat mengintegrasikan ketiga keterampilan tersebut dalam waktu yang sama dan juga melibatkan orang tua di rumah dalam pemahaman konsep tersebut disini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 12, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , , ,

Visual, Auditori atau Kinestetik?

Anak-anak dengan kesulitan belajar punya sebuah persamaan, yaitu kesulitan memproses informasi dalam belajar. Namun, penting diingat bahwa setiap anak memiliki gaya belajar yang unik. “Sekitar 20-30% murid mengingat apa yang didengarnya; 40% mengingat dengan baik gambar-gambar yang dilihat atau dibaca; banyak yang perlu menulis atau menggunakan jemari untuk berhitung; ada pula yang tidak dapat memahami informasi atau keterampilan kecuali mereka mempraktikkannya secara langsung, misalnya: menulis surat agar bisa memahami format yang baik dan benar” (Teaching Students to Read Through Their Individual Learning Styles, Marie Carbo, Rita Dunn, and Kenneth Dunn; Prentice-Hall, 1986, p.13.)

Bagi beberapa anak, stimuli pendengaran adalah yang paling efektif; sedangkan yang lain lebih cocok dengan stimuli visual. Ada pula yang perlu belajar dengan perangkat riil secara kinestetik, ataupun kombinasi ketiganya. Tiap orang memiliki gaya belajar masing-masing. Setelah mengetahui kecenderungan gaya belajar yang paling kondusif, Anda dapat mengoptimalkan kemampuan anak dalam menyerap informasi.

Para pembelajar visual mempunyai karakteristik: “Tunjukkan pada saya dan saya akan mengerti.” Mereka sangat menyukai diagram, tabel, gambar, film, dan petunjuk yang tertulis. To-do-list, jurnal tugas serta buku catatan juga akan sangat membantu. Teknik ini berlaku pula bagi pembelajar kinestetik.

Pembelajar visual:

  • melakukan pencatatan detil
  • biasanya senang duduk di depan
  • umumnya rapi dan bersih
  • sering menutup mata mereka untuk memvisualisasikan atau mengingat sesuatu
  • akan mencari sesuatu untuk ditonton saat jenuh
  • gemar mengobservasi apa yang sedang dipelajari
  • tertarik dengan ilustrasi serta presentasi berwarna
  • cenderung memilih jauh dari distraksi auditori maupun kinestetik

Metode pengajaran tradisional cenderung sesuai bagi pembelajar auditori. Intonasi suara, nuansa, dan bahasa tubuh yang bervariasi dapat menarik perhatian dan minat murid. Mereka dapat mengikuti petunjuk dengan baik melalui tulisan yang dibaca lantang atau informasi yang disuguhkan secara verbal.

Pembelajar auditori:

  • duduk di tempat yang memudahkan mereka mendengar; tanpa kebutuhan untuk mengobservasi apa yang terjadi di depan kelas
  • tidak selalu antusias dalam mengkoordinasikan warna atau pakaian, tapi dapat menjelaskan apa yang mereka kenakan dan alasan mereka mengenakannya
  • berbicara dengan diri sendiri atau orang lain saat jenuh
  • menyerap banyak informasi melalui apa yang didengar

“Anak-anak TK umumnya adalah pembelajar kinestetik yang menggerak-gerakkan dan menyentuh berbagai jenis benda. Saat duduk di bangku kelas dua atau kelas tiga, beberapa anak sudah menjadi pembelajar visual. Pada akhir sekolah dasar, beberapa anak, terutama perempuan, menjadi pembelajar auditori. Namun, banyak dewasa, terutama pria, mempertahankan kekuatan kinestetik hingga sepanjang hidup mereka.”(Teaching Secondary Students Through Their Individual Learning Styles, Rita Stafford and Kenneth J. Dunn; Allyn and Bacon, 1993)

Pembelajar kinestetik dapat menunjukkan keunggulan mereka saat dilibatkan total ke dalam proses belajar. Mereka menyerap informasi dengan cepat saat berpartisipasi dalam laboratorium sains, presentasi drama, karyawisata, menari, atau kegiatan aktif lainnya. Dikarenakan semakin menignkatnya jumlah pembelajar kinestetik, pendidikan masa kini menggunakan pendekatan yang lebih praktis dengan hands-on; alat-alat bantu dan “properti” yang dapat diintegrasikan ke dalam hampir setiap mata pelajaran, mulai dari pendidikan jasmani hingga Bahasa Inggris. Teknik pengajaran ini penting karena di satu sisi mampu mengakomodasi kebutuhan pembelajar kinestetik yang menantang dan di sisi lain memenuhi ragam kebutuhan pembelajar auditori serta visual.

Pembelajar kinestetik:

  • butuh ruang untuk senantiasa aktif dan jeda break yang cukup sering
  • berbicara dengan tangan secara ekspresif
  • mampu mengingat apa yang telah dilakukan, tapi tidak secara detil
  • mencari-cari alasan untuk bergerak saat jenuh
  • senantiasa berminat untuk terjun langsung dalam setiap aktivitas
  • umumya hobi memasak, merakit konstruksi, mesin dan berkesenian
  • duduk di dekat pintu atau bagian yang memudahkan mereka untuk bangun dan bergerak
  • tidak nyaman berada dalam kelas yang tidak menggunakan objek sebagai alat bantu belajar
  • berkomunikasi lewat sentuhan dan sangat mengapresiasi dukungan berwujud fisik, seperti tepukan di punggung

Sepanjang perjalanan para murid di sekolah, mereka akan melalui berbagai ‘arena’. Mulai SD, mereka berada jauh dari rumah dan perlu menyesuaikan diri dengan tuntutan guru. Selepas SD, mereka akan pindah ke sekolah menengah dengan guru-guru dengan berbagai karakter dan pekerjaan rumah bertumpuk. Belum lagi dengan peer pressure; wajar jika semua itu membuat mereka jengah.

Ketika anak sudah dapat menemukan gaya belajar yang paling sesuai baginya, Anda dapat merancang metode sesuai kebutuhannya. Dengan begitu, potensinya dapat tergali secara maksimal dan ia dapat mengikuti pelajaran dengan lebih mudah.

(sumber: http://school.familyeducation.com/intelligence/teaching-methods/38519.html dan http://people.usd.edu/~bwjames/tut/learning-style/styleres.html)

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2012 in Uncategorized

 

Tag: ,

Rekomendasi Alamat Situs Web

Internet kerap dicap sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, internet berfungsi mempermudah hidup, namun di sisi lain juga diiringi sederet konsekuensi negatif. Semua tergantung kepada kebijakan manusia yang mengaplikasikannya.

Bagi guru, internet seringkali berperan sebagai alat bantu yang efektif. Baik kebutuhannya untuk mencari ide aktivitas atau sekedar memperkaya wawasan, internet dapat menjadi partner yang andal. Di antara ribuan tautan yang muncul di daftar mesin pencari, berikut beberapa alamat situs web yang saya rekomendasikan:

Bahasa Inggris
http://www.enchantedlearning.com
http://www.ilovethatteachingidea.com/
http://www.educationworld.com/a_tsl/archives/ah.shtml

Matematika
http://www.kidzone.ws/math/
http://www.tlsbooks.com/mathworksheets.htm
http://www.homeschoolmath.net/

Kesenian
http://familycrafts.about.com/od/elementaryschoolkids/Crafts_for_Elementary_School_Kids.htm
http://kinderart.com
http://www.disney.co.uk/disney-junior/art-attack/attacks/

Situs informatif untuk murid dan guru
http://www.factmonster.com/homework/
http://kidshealth.org/kid/
http://epa.gov/climatechange/kids/index.html
http://kids.nationalgeographic.com/kids/

Online games Matematika & Bahasa Inggris
http://primarygames.com/reading.htm
http://www.knowledgeadventure.com
http://www.learninggamesforkids.com
http://www.4kids.org/games

Happy browsing!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , ,

Komentar Guru dalam Rapor

Bisa jadi penempatan waktu posting tulisan berikut agak kadaluwarsa, tapi semoga materi ini dapat membantu para guru yang akan menyusun komentar rapor para murid yang mereka bimbing dalam periode waktu empat atau lima bulan lagi.

Di bawah ini tertulis beberapa komentar yang dapat digunakan sebagai bahan menulis rapor di akhir semester/tahun pelajaran. Perlu diingat bahwa akan selalu lebih bermanfaat dan informatif bagi para orang tua jika Anda dapat memberi komentar yang spesifik dibandingkan komentar secara garis besar. Usahakan juga untuk menyampaikan ‘kabar buruk’ dengan kalimat positif. Misalnya: dibanding menulis ”xxx kurang percaya diri…”, lebih baik menulis ”xxx butuh dorongan untuk lebih percaya diri…”

Kata-kata umum untuk mendeskripsikan karakteristik murid di kelas:
able (mampu), accurate (akurat), active (aktif), vigorous (bersemangat), attentive (penuh perhatian), needs more encouragement in… (perlu dorongan dalam…), capable in… (terampil dalam…), cheerful (ceria), confident (percaya diri), cooperative (kooperatif), conscientious (teliti), careful (berhati-hati), courteous (sopan), dependable (dapat diandalkan), determined (penuh kesungguhan), energetic (energik), friendly (bersahabat), generous (murah hati), helpful (senang membantu), imaginative (imajinatif), industrious (produktif), initiative (berinisiatif), keen in… (memiliki ketertarikan terhadap…), interested in… (berminat terhadap…), neat (rapi), requires support in… (butuh dukungan dalam…), observant towards… (perhatian terhadap…), sistematic (sistematis), pleasant (menyenangkan), polite (menunjukkan tata krama baik), prompt (tepat waktu), needs more time in… (butuh waktu dalam…), receptive (mudah menangkap pelajaran), orderly (teratur), resourceful (berwawasan luas), motivated (bermotivasi), developed significantly in… (mengalami perkembangan signifikan dalam…), requires teacher’s assistance during… (butuh perhatian lebih saat…), needs to improve focus when… (perlu meningkatkan konsentrasi dalam…), needs to be urged (butuh motivasi dari orang lain), has improved steadily  (menunjukkan perkembangan berarti), is learning to be a better listener (belajar untuk jadi pendengar yang lebih baik), is learning to occupy his/her time constructively (berusaha untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya)

Berikut adalah kata-kata yang dapat dipergunakan saat menulis komentar di rapor untuk mata pelajaran bahasa Inggris/bahasa Indonesia bagi murid-murid (terutama usia dini – TK dan SD):

Speaking (keterampilan berbicara)
speaks in good sentences (berbicara dengan susunan kalimat yang baik)
speaks clearly (berbicara dengan jelas)
needs support in using (pronouns, verbs) correctly (butuh pendalaman lebih untuk memahami (kata ganti, kata kerja) dengan baik)
enjoys participation in conversation and discussion – expresses ideas clearly (berpartisipasi secara aktif dalam percakapan dan diskusi) – mengutarakan gagasan dengan lancar
has a good oral vocabulary (kaya dengan kosakata)
takes turns talking (menunggu orang lain selesai berbicara sebelum gilirannya)
speaks with confidence to the group (berbicara dengan penuh percaya diri di hadapan sekelompok orang

Writing (keterampilan menulis)
uses punctuation correctly (mengaplikasikan penggunaan tanda baca dengan tepat)
is able to place periods and question marks correctly – uses colorful words (mampu mengaplikasikan titik dan tanda tanya – kata-kata yang digunakan bervariasi)
uses (complex, simple) sentences (menggunakan kalimat yang (kompleks, sederhana)
is now able to write a complete sentence independently – participates in group story telling (composition) – can write an original story of (one or two sentences, of a few sentences) (dapat menulis kalimat lengkap tanpa bantuan – berpartisipasi dalam kelompok saat menyusun cerita (komposisi) – dapat menuliskan cerita karyanya sendiri sebanyak satu atau dua kalimat, atau beberapa kalimat)
puts words in the appropriate order (menyusun kata-kata sesuai urutannya)
shows self confidence in writing (menunjukkan kepercayaan diri dalam menulis)
can compose several related sentences (dapat membuat beberapa kalimat yang bermakna)

Spelling (keterampilan mengeja)
is building a good spelling vocabulary – uses his individual dictionary to find unfamiliar words – enjoys learning to spell new words (menunjukkan peningkatan dalam mengeja kata-kata yang diketahuinya – menggunakan kamus – giat berusaha mengeja kata-kata yang baru diketahuinya)
is able to learn to spell words easily – sometimes reverses letters in a word (mampu mengeja kata-kata dengan mudah – kadang terbalik saat mengeja huruf dalam kata-kata)
needs encouragement in remembering the spelling of non-phonetic words – is helped by using hand or body motions to remember spelling (butuh dorongan dalam mengingat kata-kata yang tidak berbunyi/‘fonetik’ – perlu bantuan gerakan tangan atau tubuh untuk mengingat ejaan tertentu)

Reading (keterampilan membaca)
reading is (smooth, jerky, hesitant, rapid, irregular, fluent) – comprehends what s/he reads (teknik membacanya: lancar, belum stabil, perlu lebih lantang dan percaya diri, terlalu cepat, masih butuh bantuan agar lebih teratur dan dapat dimengerti, tanpa masalah)
is interested in books and reading (menunjukkan minat terhadap buku dan membaca)
can read to follow directions (dapat membaca instruksi)
can now recognize ____ sight words (dapat membaca ____ sight words – kata-kata yang sering digunakan dalam penulisan kalimat)
reads for pleasure (membaca untuk mengisi waktu luang)
needs lots of repetition and practice in order to retain reading vocabulary (perlu pengulangan dan latihan untuk memahami kosakata dalam bacaan)
needs to improve understanding of words which look alike – is beginning to read words in groups (phrases) – reading is becoming (not yet becoming) automatic – enjoys discussing the stories (perlu meningkatkan pemahaman terhadap kata-kata yang ejaannya mirip – mulai terbiasa dengan frase kata – kegiatan membaca jadi (belum jadi) hal yang otomatis – menikmati kegiatan diskusi mengenai cerita

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 4, 2012 in Uncategorized

 

Tag:

Menulis Secara Kronologis

Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang dapat ditingkatkan dengan banyak membaca. Lewat membaca, kosakata akan semakin kaya & paparan terhadap ragam gaya bahasa akan memberi tulisan kita warna. Dalam konteks mengajar, praktik reading aloud dapat dipraktikkan pada murid-murid usia dini atau yang mempunyai attention span pendek.

Dua hal yang perlu diperhatikan saat mengajarkan teknik menulis cerita naratif dalam bahasa Inggris adalah penguasaan sequence words (kata-kata yang menunjukkan urutan) & kronologi peristiwa agar alur cerita enak dibaca.

Sebelum menugasi murid untuk menulis jurnal liburan atau mengarang fiksi, murid perlu mengenal terlebih dulu apa yg dimaksud dengan sequence (urutan) itu sendiri. ‘Angka’ menunjukkan jumlah (one, two, three, dst.), sedangkan ‘angka kesekian’ menunjukkan urutan (first, second, third, dst.).

Sebagai perkenalan dasar, Anda dapat menggambar 10 semut (bintang, hati, atau benda lain yang mudah untuk digambar) dalam sebuah barisan. Kemudian, tuliskan 1st hingga 10th di atas gambar. Minta murid untuk menunjuk ke semut sesuai urutan mereka, “Point at the first (second, third, last) ant“. Variasikan dengan instruksi seperti “Draw a circle around the first ant” atau “Color the third ant with red” dan sebagainya. Pastikan bahwa murid Anda tahu bahwa 1st = first, 2nd = second, dst.

Setelah konsep dasar tentang ‘urut-mengurut’ sudah solid, Anda bisa menambah daftar kosakata mereka dengan sequence words lain, seperti then, after that, next dan finally.

Berikutnya, latih kemampuan mereka menggunakan 4-10 kartu bergambar yg menceritakan beberapa peristiwa yg berurutan. Misalnya: 1. Gambar nenek membuat adonan kue, 2. Gambar nenek mencetak kue, 3. Gambar nenek meletakkan kue yang sudah dicetak di atas alat memanggang, 4. Gambar kue sudah jadi. Acak kartu-kartu tersebut, lalu minta murid utk mengurutkan & menceritakannya dengan menggunakan sequence words.

Sebagai games, Anda bisa melakukan permainan yang saya temukan di sebuah situs pengajaran ESL (English as a Second Language). Permainan ini bernama Ghosts, sangat berguna untuk melatih simple past tense & juga sequence words. Tata caranya adalah sebagai berikut:

LANGKAH 1 Gambar figur orang-orangan pada papan tulis. Bagi murid menjadi tiga tim. Tiap tim memiliki tiga nyawa.

LANGKAH 2 Ulang kembali kata-kata kerja dalam past tense(sebanyak-banyaknya). Tim pertama memulai dengan kata “First“, tim kedua melanjutkan dengan “Next“, lalu tim ketiga meneruskan dengan “Then“, kemudian tim pertama kembali meneruskan dengan “After that” dan tim kedua menyimpulkan cerita dengan kalimat berawalan “Finally“; semua kalimat saling berkaitan satu sama lain. Setiap kali ada tim yang mendapat kata “First“, tim tersebut dapat memulai dengan cerita baru.

LANGKAH 3 Tim yang kehilangan tiga nyawa ‘meninggal’ dan menjadi hantu, sedangkan tim terakhir yang hidup menjadi pemenangnya.

Contohnya:

First, he got out of bed.
Next, he brushed his teeth.
Then, he went for a run.
After that, he had a shower.
Finally, he ate breakfast.

Tim akan kehilangan nyawa jika:

* mengulangi kata kerja yang sudah digunakan sebelumnya
* membuat kesalahan grammar
* memakan waktu terlalu lama
* kalimat yang dibuat tidak masuk akal

Ketika murid Anda sudah cukup percaya diri dalam menempatkan sequence words dalam kalimat hingga membentuk paragraf, Anda dapat memberinya tantangan untuk menulis jurnal liburan. Ingatkan mereka untuk menulis dalam past tense (bentuk lampau) & beri ruang (kotak kosong) dalam kertas kerja untuk menggambar ilustrasi pengalaman liburan tersebut.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 31, 2011 in Uncategorized

 

Tag: ,